Peringatan Maulid Nabi: Meneladani Pengorbanan Rasulullah dalam Memuliakan Wanita

KUDUS— Suasana khidmat menyelimuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diwarnai dengan pesan mendalam tentang pentingnya menuntut ilmu dan berselawat.

Mengusung filosofi Jawa “Ngajiyo, Supoyo dadi Aji” (Mengajilah agar dirimu berharga), acara ini dihadiri oleh jajaran pengasuh dan para santri dengan penceramah utama Romo KH. Hasan Fauzi Maskan.

Pengasuh Pondok Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an 2 Muria, Abah KH. Nur Khamim,Lc., Pg.D., M.Pd. menyampaikan rasa syukur dan penghormatan mendalam atas kehadiran KH. Hasan Fauzi Maskan yang sudah ketiga kalinya rawuh memberikan wejangan. Beliau merupakan sosok guru senior yang juga menjadi guru dari para ustadz di pesantren, mulai dari generasi Ustadz Drs. H. Nur Hudlri, Ustadz Ufi Syaiful Ulum, Ustadz M. Misbahhurrizaq, Ustadz Muhammad Ainun Najib, hingga Ustadz Prima Kurnia Rahman.

Dalam tausiyahnya, Romo KH. Hasan Fauzi Maskan, pengasuh PP Al Hidayah Lasem dan Masyayikh Kudus, menyoroti betapa besarnya perubahan peradaban yang dibawa oleh Rasulullah SAW, khususnya dalam mengangkat derajat kaum perempuan dari kehinaan zaman jahiliyah.

Martabat Perempuan dan Kejamnya Zaman Jahiliyah

Kiai Hasan menceritakan kebiasaan masyarakat jahiliyah yang menganggap kelahiran anak perempuan sebagai sebuah aib, hingga tak segan mengubur mereka hidup-hidup. Kisah dramatis dialami oleh Sayyidina Umar bin Khattab sebelum beliau masuk Islam.

“Saat sang istri melahirkan seorang bayi perempuan, dengan bantuan dukun bayi, identitas sang bayi disembunyikan, karena khawatir akan dikubur hidup- hidup. Sang anak kemudian dimandikan dan dipakaikan pakaian laki-laki,” tuturnya.

Rahasia besar ini tersimpan rapat selama 7 tahun. Kejadian memilukan berlanjut ketika anak tersebut menginjak usia 7 tahun—usia di mana anak-anak Makkah mulai diajarkan berkuda dan memanah. Umar mengajak anaknya berburu ke luar kota.

Di tengah perjalanan pulang, rahasia itu terbongkar saat Sayyidina Umar mengetahui bahwa anaknya adalah perempuan. Diliputi kemarahan dan dogma jahiliyah saat itu, Umar langsung menggali lubang dan mengubur putri kecilnya sebelum sampai di rumah.

“Begitulah kondisi zaman jahiliyah. Maka kita patut berterima kasih kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang telah memperjuangkan hak-hak perempuan hingga saat ini wanita menjadi kaum yang bermartabat,” tutur yai Hasan Fauzi.

Keajaiban Shalawat dan Pencinta Al-Qur’an

Selain pentingnya memuliakan perempuan, Kiai Hasan mengingatkan keutamaan memperbanyak shalawat dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup. Selawat, meski ringan diucapkannya, memiliki Fadhilah luar biasa yang mampu menyelamatkan seseorang dari ancaman api neraka serta mengantarkan pada kematian yang husnul khotimah.

“Orang yang sibuk dengan Al-Qur’an dan selawatnya, maka Allah akan memberikan yang terbaik melebihi apa yang diminta oleh orang lain,” tutur beliau.

Sebagai penutup tausiyah, beliau membagikan kisah nyata dari negeri Turki tentang seorang penulisi Al-Qur’an tangan. Sebelum wafat, pria tersebut berpesan agar mushaf tulisan tangannya dikuburkan bersama jasadnya.

Suatu hari, sang anak menemukan mushaf yang identik dengan tulisan ayahnya dijual di sebuah toko kitab. Setelah ditelusuri melalui penggali kubur yang menemukan mushaf tersebut, mereka melakukan pembongkaran makam. MasyaAllah, jasad sang penulis Al-Qur’an ditemukan masih utuh tanpa perubahan sedikit pun pada wajahnya—sebuah bukti nyata perlindungan Allah bagi hamba-Nya yang mencintai Al-Qur’an. (fid)

Penulis: Zaim Fida

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *