KUDUS– Dalam rangka meningkatkan mutu pengasuhan, penyelarasan sanad tahfidh, serta pemantapan karakter santriyah yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an, Pondok Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an 2 Muria (PTPYQ 2 Muria) Muria menggelar agenda workshop dan sarasehan strategis kelembagaan. Agenda ini diikuti secara intensif oleh seluruh jajaran murobbiyah (pengasuh kamar), ustadzah tahfidh di lingkungan pesantren. (10/7)
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini bertujuan untuk memantapkan visi bersama menuju perwujudan profil santriyah yang “Hafidhah Qur’ani Amali, Unggul dalam Prestasi, dan Berkarakter Aswaja”. Menyadari posisi strategis pendidik sebagai arsitek peradaban di balik tiang negara, merujuk pada prinsip teologis-filosofis bahwa wanita adalah tiang negara (al-mar’atu ‘imadul bilad), pesantren menegaskan pentingnya keteladanan harian yang mengalir dari kebersihan hati para guru langsung ke dalam dada para santriyah.
Integrasi Kurikulum Ulul Albab dan Living Qur’an
Dalam pemaparannya, dr. Hj. Tri Wigati, M.M., menyampaikan bahwa strategi pengembangan karakter santriyah di PTPYQ 2 Muria wajib bergeser dari sekadar teks mati menuju pendekatan Living Qur’an. Model dakwah transformatif peninggalan Sunan Muria diadopsi secara kreatif agar santriyah memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk melestarikan nilai spiritual di era modern tanpa membedakan batas-batas gender.
“Kurikulum pesantren hendaknya dirancang dengan menyeimbangkan konsep Ulul Albab, yaitu keselarasan antara aktivitas dzikir (memperkuat kedekatan vertikal melalui kalam ilahi) dan berpikir (mempelajari sains, riset ilmiah, dan literasi global), tuturnya.
Hal ini untuk menghindari stres akademik pada anak, siklus pembelajaran tahfidh yang meliputi Muhafadhah, Muraja’ah, dan Mudzakarah (M3) kini dikawal berbasis teknologi informasi secara proporsional dan ramah anak.

Trilogi Peran Murabbi: Kasih Sayang, Keteladanan, dan Kedisiplinan
Agenda upgrading ini juga mengupas tuntas formula kepengasuhan berbasis tiga pilar utama: kasih sayang, keteladanan, dan kedisiplinan edukatif. Ibu dr. Hj. Tri Wigati, M.M., menegaskan bahwa disiplin di lingkungan pesantren bukanlah sarana balas dendam atau hukuman fisik yang menakutkan, melainkan instrumen pembiasaan positif agar santriyah mampu mengendalikan diri dan bertanggung jawab secara mandiri.
Melalui penjaminan dimensi karakter, indikator aksi konkret santriyah dievaluasi melalui sistem yang terstruktur:
- Spiritual Qur’ani: Diukur lewat Tasmi’ Berjenjang dan Logbook Digital.
- Intelektual Global: Diukur lewat portofolio karya tulis, riset (KIR), dan uji kompetensi bahasa asing (bilingual Arab-Inggris).
- Aswaja & Ekologi: Diukur dari akhlakul karimah serta pembiasaan menjaga kelestarian lingkungan pondok yang asri.
Melalui implementasi jembatan kasih sayang, para murobbiyah diarahkan untuk bertindak sebagai orang tua kedua yang memberikan pelukan hangat saat santriyah merindukan rumah, sekaligus menjadi navigator kehidupan mereka selama di pesantren. Sanksi yang diberikan atas pelanggaran harus bersifat edukatif (seperti menambah setoran hafalan atau merapikan perpustakaan) yang didahului dengan pendekatan lisan empat mata.
Penjaminan Mutu Berkelanjutan (TQM)
Untuk mengawal seluruh target sinergi pendidik tersebut, maka pihak pondok menerapkan prinsip Total Quality Management (TQM) berbasis peningkatan berkelanjutan (Continuous Improvement). Langkah konkret yang diambil meliputi pembinaan kapasitas keilmuan tahfidh bersanad secara berkala, modernisasi laboratorium tahfidh digital, serta penerapan sistem tata kelola mutu guru yang transparan dan apresiatif.
“Diharapkan seluruh murobbiyah dan asaatidz tahfidh siap mengantarkan para santriyah lulus dengan kualifikasi seimbang: tidak hanya fasih melafalkan Al-Qur’an dan Hadits, tetapi juga unggul dalam karya tulis kreatif, komunikasi bilingual aktif, serta memegang teguh akidah Aswaja yang rahmatan lil ‘alamin,” tegasnya. (fid)
Penulis: Zaim Fida

Tinggalkan Balasan