KUDUS — Rona bahagia dan haru terpancar dari wajah 76 santriyah khotimat pada Haflatul Hidzaq ke-5 Pondok Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an (PTPYQ) 2 Muria, Rabu (10/06/2026). Di balik momen indah tersebut, ternyata ada kisah perjuangan fisik dan batin yang sangat luar biasa. Pengasuh PTPYQ 2 Muria, Abah KH. Nur Hamim, Lc., M.Pd., dalam sambutannya membedah secara mendalam prosesi ujian ketat yang menjadi standar baku di pondok pesantren tersebut. Beliau menegaskan bahwa ketahfidhan adalah prioritas utama dan pertama (taajul injazaat) di Yanbu’ul Qur’an.
Sebelum dinyatakan lulus dan berhak mengikuti haflah, para santriyah harus melewati tiga tahapan ujian yang menuntut fokus serta disiplin. Tahap pertama dimulai dengan setoran bil ghaib 30 juz kepada ustadzah pendamping, dilanjutkan program karantina untuk ngglondongi (membaca utuh berkesinambungan) 30 juz, serta ujian menyetor 10 juz per hari selama tiga hari berturut-turut di hadapan penguji silang.

Kemudian pada tahap kedua, para santriyah wajib menyetorkan hafalan 30 juz utuh secara bil ghaib di hadapan tim penguji luar yang berasal dari para alumni Yanbu’ul Qur’an Pusat. Ujian marathon ini berlangsung sejak selesai Subuh hingga pukul 10 malam, dan baru berakhir setelah disambung kembali pada Subuh hari kedua. Tahap akhir ditutup dengan sima’an langsung di hadapan Kepala Pendidikan Tahfidh di ndalem lantai 2. “Lewat ikhtiar program dan pendampingan ketat ini, kami berharap hafalan para santri betul-betul menancap, manggon, dan terpatri kuat di dalam hati serta akal pikiran mereka. Hari ini kita semua menyaksikan hasilnya, man jadda wa jada,” tutur KH. Nur Hamim penuh takzim.
Selain memaparkan ketatnya proses penjaminan mutu hafalan, Abah Nur Hamim juga menitipkan pesan filosofis yang sangat menyentuh hati para khotimat dan wali santri yang hadir. Beliau meminta para santriyah untuk tidak menganggap momen haflah ini sebagai terminal akhir, melainkan sebagai pijakan awal untuk mengarungi kehidupan yang sesungguhnya.
Beliau berpesan agar para alumni memperlakukan Al-Qur’an sebagai sahabat sejati—sosok tepercaya yang berani berkata jujur tentang kekurangan diri, bukan yang selalu membenarkan tindakan kita. Al-Qur’an harus menjadi kompas spiritual yang menarik mereka kembali ketika arah cita-cita hidup mulai melenceng.
Menutup wejangannya yang sarat keteduhan, Abah Nur Hamim melontarkan sebuah kalimat indah: “Jika menghafal adalah bukti cinta, maka nderes dan muroja’ah adalah bukti setia. Harus ada kesetiaan di dalam menjaga Al-Qur’an, dan tiada jalan lain untuk itu kecuali terus mengulanginya melalui metode fami bi syauqin di mana pun kalian berada,” tutur beliau disambut gema amin yang syahdu.
Dengan bekal ketangguhan mental dan kedalaman spiritual tersebut, 76 hafidhah baru dari lereng Gunung Muria kini siap melangkah, membawa cahaya Al-Qur’an untuk menerangi bentang peradaban umat di masa depan. (Ar)

Tinggalkan Balasan