Staf Ahli Mendiktisaintek RI: Haflatul Hidzaq Adalah Fondasi Cahaya Al-Qur’an untuk Masa Depan

KUDUS — Suasana khidmat, teduh, dan penuh rasa bangga menyelimuti pelataran Pondok Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an (PTPYQ) 2 Muria pada Rabu (10/06/2026). Hari kedua pelaksanaan Haflatul Hidzaq ke-5 ini menjadi saksi sejarah bagi 76 santriyah khotimat yang telah purna menyelesaikan hafalan luhur 30 juz Al-Qur’an.

Di antara riuh rendah rasa syukur yang ada, untaian kalimat penuh takzim disampaikan oleh Dr. H. Hasan Chabibie, S.T., M.Si., Staf Ahli Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI. Beliau rawuh sebagai perwakilan wali santriyah dari Ananda Faizah Fakhrunnisa. H. Hasan Chabibie menumpahkan rasa bangga sekaligus ketakziman yang mendalam kepada pengasuh, para kyai, bu nyai, ustadz-ustadzah, serta ratusan wali santri yang memadati venue acara.
“Syukur alhamdulillah, hari ini kita bisa menghadiri prosesi khataman Al-Qur’an putri-putri kami dengan rasa bangga, haru, dan terhormat,” tutur H. Hasan Chabibie, dalam pembukaan sambutannya.

H. Hasan Chabibie, yang sehari-hari beraktivitas di megahnya metropolitan Jakarta, melihat sang putri mau mondok di keteduhan lereng Gunung Muria demi menghafal Al-Qur’an, adalah sebuah anugerah yang tak terbayangkan. Beliau menyadari penuh, di balik mahkota cahaya yang hari ini disematkan pada para khotimat, ada untaian doa malam dan riyadhah lahir-batin yang luar biasa dari para para kyai, bu nyai, ustadz-ustadzah, dan seluruh stakeholder pondok.

“Kami tidak bisa membayangkan seperti apa riyadhah-nya para Kyai dan Bu Nyai. Betapa beratnya mendidik santri-santri agar sampai pada titik ini. Di tengah pusaran zaman yang sedemikian rupa, apa yang diikhtiarkan oleh pondok ini benar-benar menjelma menjadi cahaya,” tutur beliau dengan nada teduh.

Lebih lanjut, H. Hasan Chabibie menekankan bahwa hafalan 30 juz yang telah diselesaikan bukanlah titik akhir, melainkan sebuah fondasi spiritual dan intelektual yang maha kokoh untuk melangkah ke jenjang pendidikan berikutnya, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Semangat keistiqamahan serta tradisi nderes yang mengakar kuat di pondok menjadi lentera bagi keilmuan para santriyah untuk semakin menerangi umat di masa mendatang.

Tak lupa, H. Hasan Chabibie juga memohonkan maaf atas segala khilaf yang ditimbulkan selama para santriyah menempuh studi. Beliau mengingatkan sebuah esensi luhur dalam tradisi pesantren: bahwa ikatan batin antara santri dan sang guru bersifat abadi.
“Hubungan antara santri dan kyai tidak pernah selesai sampai mati. Tidak ada istilah mantan santri. Selamanya putri-putri kami adalah santri dari Romo Kyai Hamim dan keluarga besar pondok ini. Hubungan ta’dzim inilah yang membawa barokah sejati bagi kehidupan kita semua,” tutur beliau.

Haflatul Hidzaq ke-5 ini tidak sekadar meluluskan para penghafal Al-Qur’an, namun kembali meneguhkan PTPYQ 2 Muria sebagai mata air peradaban Islam yang terus mengalirkan keteduhan, melahirkan generasi masa depan yang berilmu amaliyah dan beramal ilmiah berlandaskan Al-Qur’an. (Ar/Fid)

Penulis: Arofatul Ulya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *