KUDUS – Suasana khidmat menyelimuti agenda Haflatul Hidzaq ke-5 dan Khotmil Qur’an yang diikuti oleh 76 santriyah khotimat pada Rabu (10/06/2026). Momentum sakral kelulusan para penghafal Al-Qur’an ini dinilai sebagai nikmat paling agung, di mana ribuan malaikat turut turun memberikan penghormatan dan memohonkan ampunan bagi mereka yang mengkhatamkan kalamullah.
Dalam tausiyahnya, Pengasuh Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus, Abuya Romo KH. M. Ulil Albab Arwani, menyampaikan bahwa pencapaian khatam Al-Qur’an bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk menjaga hafalan. Beliau menegaskan pentingnya proses belajar di hadapan guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas dan tersambung hingga Rasulullah SAW.
“Khatam Qur’an di sini tidak hanya membaca sampai selesai, tetapi juga membaca di hadapan ahli Qur’an yang memiliki sanad membaca Al-Qur’an. Anak-anak kita mendapat anugerah luar biasa bisa mengaji di hadapan guru yang bersanad,” tutur KH. Ulil Albab Arwani di hadapan para santri dan wali santri.
Beliau mengingatkan bahwa kewajiban menuntut ilmu Al-Qur’an berlaku sepanjang hayat dan tidak mengenal batas usia. Sebagai gambaran, beliau mengisahkan kecerdasan luar biasa Sahabat Ali bin Abi Thalib RA yang digambarkan melampaui kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) di zaman sekarang.
Ketika diuji di sebuah majelis untuk mencari satu angka bulat yang bisa dibagi habis oleh angka 1 hingga 10 tanpa menghasilkan pecahan, Sahabat Ali menjawabnya secara spontan dengan formula matematika yang sangat indah, yaitu jumlah hari dalam sepekan dikalikan jumlah hari dalam satu bulan, lalu dikalikan jumlah bulan dalam satu tahun (7 x 30 x 12 = 2520).
“Sayyidina Ali yang memiliki kecerdasan luar biasa seperti itu saja masih diperintah oleh Kanjeng Nabi untuk mengaji, apalagi kita. Kita harus tetap mengaji bersama agar anak-anak kita meniru orang tuanya,” imbuh beliau.
Abuya Romo KH. M. Ulil Albab Arwani juga memberikan pesan mendalam kepada para khotimat agar tidak melalaikan hafalan mereka, mengingat sifat Al-Qur’an yang cepat lepas dari ingatan. Melupakan hafalan karena kelalaian dikategorikan sebagai dosa besar, sedangkan menjaga hafalan hingga akhir hayat akan mendatangkan nikmat yang luar biasa.
Sebagai solusi praktis agar hafalan tetap terjaga, beliau menganjurkan metode nderes (murajaah) mingguan yang diwariskan oleh para sesepuh, yaitu metode Fami bi syauqin. Melalui metode ini, hafalan dibagi secara konsisten agar bisa khatam dalam waktu satu minggu, dimulai pada malam Jumat dan dikhatamkan pada Kamis sore. Pembagian juznya pun kini sudah dipermudah dalam panduan Mushaf Al-Quddus. (fid)

Tinggalkan Balasan