Qur’anic Legacy: Strategi Santri Muria Menghadapi Shifting Paradigm di Era Pasca-Aliyah

KUDUS – Suasana khidmat menyelimuti ruang laboratorium komputer MA Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an 2 (MA TP YQ 2) Muria pada Senin (11/05). Di ambang pintu kelulusan, para santri kelas XII berkumpul untuk menyerap “sangu”, melalui kegiatan Pembekalan Pasca Belajar. Mengusung tema visioner “Qur’anic Legacy, Shifting Paradigms, Leading Change”, kegiatan ini menjadi momentum penting transisi santri dari pondok pesantren menuju realitas pengabdian masyarakat.

Ketua Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YMMSM), Ustadz Drs. H. Nur Hudlri, dalam sambutannya menyampaikan rasa haru dan bangga. “Kami atas nama yayasan merasa terharu dan bangga. Mungkin bagi kami tidak terasa, tiba-tiba sudah waktunya kelulusan. Mengapa kami bangga? Karena bisa bersama-sama mewujudkan salah satu cita-cita yayasan, yaitu mempertahankan dan meneruskan perjuangan dalam bidang ilmu agama,” tutur beliau dengan nada teduh.
Menjelang muwaada’ah (haflatul wadaa’) ketiga yang direncanakan pada Juni mendatang, Ustadz Nur Hudlri menekankan bahwa pembekalan ini adalah bentuk kasih sayang lembaga agar para santri siap secara mental dan spiritual.

“Hari ini, kami menyelenggarakan kegiatan berupa penambahan pembekalan untuk kelas 12 agar hasilnya tidak mengecewakan, baik itu untuk diri sendiri, orang tua, maupun masyarakat,” tuturnya. Beliau juga mengingatkan bahwa keberhasilan tidak melulu soal kuantitas, melainkan keberkahan. “Sedikit tapi berkah. Tanamkan dalam jiwa kalian pentingnya berakhlakul karimah, seperti yang kalian pelajari dalam kitab Ta’limul Muta’allim.”

Menata Niat, Menyiapkan Perjalanan Panjang

Senada dengan hal tersebut, Kepala MA TP YQ 2 Muria, Abah KH. Nur Khamim, Lc., M.Pd., memberikan wejangan filosofis melalui pendekatan sirah nabawiyah. Beliau mengajak para santri untuk mengubah pola pikir (mindset) tentang apa yang paling mendesak dalam hidup: yakni bekal.

Beliau mengisahkan dialog antara Rasulullah SAW dengan seorang sahabat yang bertanya tentang hari kiamat. Bukannya menjawab waktu terjadinya, Nabi justru bertanya balik mengenai persiapan sang sahabat.

“Dari situ kita tahu bahwa pertanyaan sahabat tadi penting, tapi ada yang lebih penting, yaitu bekalnya. Kaitannya dengan kegiatan ini adalah bekal yang harus kalian persiapkan untuk nantinya meraih masa depan,” tutur Abah Nur Khamim.

Menutup arahannya, beliau mengutip wasiat Rasulullah kepada sahabat Abu Sa’id al-Khudri yang sangat relevan bagi santri yang akan segera melangkah keluar dari gerbang madrasah. “Kanjeng Nabi bersabda: Perbanyaklah bekal, karena perjalanan masih panjang. Jadi, ajang pembekalan ini adalah agenda resmi dan salah satu ikhtiar lembaga yang isi materinya sangat-sangat penting. Harap diperhatikan sebaik-baiknya,” tutur beliau.

Melalui pembekalan ini, MA TPYQ 2 Muria berharap para lulusannya tidak hanya mahir dalam menjaga hafalan Al-Qur’an, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang santun, moderat, dan tetap membumi di tengah arus perubahan zaman yang kian cepat. (Ar/*)

Penulis: Arofatul Ulya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *