Bedah Buku Kiprah KH. Abdul Jalil: Membangkitkan Kembali Pelita Yang Redup

KUDUS, 12 April 2026 – Cahaya matahari yang terik di pusat Kota Kudus pada hari Ahad ini, seolah menjadi perlambang semangat yang membara di Madrasah TBS Kudus. Di tengah suasana cerah tersebut, ratusan santriyah berkumpul dengan penuh antusias untuk mengikuti acara bedah buku bertajuk Menguak Jejak Sang Penggerak: Menelusuri Peran KH. Abdul Jalil yang Terlupakan.

Acara yang berlangsung khidmat ini dibuka dengan pembacaan Ummul Kitab oleh KH. Hasan Fauzi, dilanjutkan pembacaan tahlil. Turut hadir dalam pembukaan, Pengasuh Pondok Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an 2 Muria, KH. Nur Khamim, Lc., M.Pd, memimpin doa tahlil.

Hadiah Satu Abad untuk Sang Guru

Muhammad Chasif Ascha, sang penulis utama, mengungkapkan bahwa buku bertajuk “Jagonya NU yang Terlupakan: KH. Abdul Jalil” ini merupakan kado istimewa bagi Harlah 100 Tahun Madrasah TBS. Ketertarikan Mas Ashif—sapaan akrabnya—bermula dari temuan berbagai manuskrip lama yang kerap mencantumkan nama KH. Abdul Jalil.

“Rasa penasaran itu menuntun kami membentuk tim untuk menelusuri lebih jauh. Ternyata, kiprah beliau sangat luar biasa dan mencakup berbagai bidang, mulai dari organisasi Nahdlatul Ulama, kancah politik, hingga pengabdian sosial bagi masyarakat Kudus,” jelas Mas Ashif.

Satu fakta sejarah yang memukau hadirin adalah peran KH. Abdul Jalil dalam perjuangan kemerdekaan. Berdasarkan arsip surat kabar Berita Indonesia tertanggal 30 Juli 1948, beliau tercatat mengoordinir pengumpulan dana sebesar Rp15 juta untuk pembelian pesawat Dakota demi kepentingan Republik.

Jaringan Intelektual dan Etika Saudagar.

Hadir sebagai narasumber, sejarawan Dr. Edy Supratno, M.Hum., memberikan apresiasi tinggi terhadap karya ini. Menurutnya, buku ini sangat kaya akan referensi otentik, baik dari hasil wawancara mendalam maupun bedah manuskrip sezaman yang valid secara historis.

Senada dengan itu, Dr. Rijal Mumazziq Z., M.H.I., membedah sisi sanad keilmuan KH. Abdul Jalil. Ia menjelaskan bagaimana sang kiai membangun jaringan intelektual yang kokoh, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga hingga ke mancanegara. Menariknya, Dr. Rijal juga merefleksikan kondisi sosial Kudus di masa lalu, di mana terdapat ikatan batin yang kuat antara kaum ulama dan para juragan rokok serta tembakau. Beliau menyentil fenomena modern dengan membandingkan etika dagang zaman dahulu.

“Pedagang dahulu memilih nama merek yang bermakna dan mudah diingat sebagai bentuk keberkahan. Berbeda dengan produk masa kini yang terkadang hanya mengejar viral tanpa kedalaman makna,” tuturnya.

Melalui bedah buku ini, sosok KH. Abdul Jalil yang selama ini seolah tersembunyi di balik lipatan sejarah, kini kembali hadir sebagai inspirasi.

Kegiatan ini bukan sekadar diskusi literasi, melainkan upaya mencerahkan generasi muda untuk mengenal jati diri dan akar perjuangan para pendahulunya di tanah kretek. Semangat yang terpancar dari para santriyah siang itu menjadi bukti bahwa jejak sang penggerak tidak akan benar-benar hilang selama masih ada generasi yang sudi menelusuri dan menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangannya. (Fid/Ar)

Penulis: Zaim Fida

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *