IMG-LOGO
Flash News :
Cerpen

Ular di Dalam Kotak Infak

oleh Administrator - 1 detik yang lalu Dilihat 25 kali 0 Komentar
IMG

Oleh Risen Dhawuh Abdullah





Setelah selesai salat jumat, kembali orang-orang yang menghitung uang infak di serambi masjid Nurul Huda digegerkan dengan adanya ular seukuran jempol dengan panjang kurang lebih setengah meter di dalam kotak infak. Ular itu melingkar di atas tumpukan uang. Ular itu berwarna coklat keemasan. Seluruh orang yang mengerumuni kotak infak itu berlari menjauh dari serambi masjid, kecuali Saddil, pemuda berusia dua puluh tiga tahun berwajah tak terlalu tampan.





Saddil sama sekali tak gentar. Tanpa menghiraukan suara heboh orang-orang yang sudah berada di luar masjid, dengan perlahan tangannya masuk ke dalam kotak infak. Ular itu kini berada di tangannya dan ia diam.





Sudah tiga kali salat jumat, orang-orang yang menghitung infak mendapati seekor ular di dalam kotak infak. Padahal kotak infak itu tak cacat, artinya tak ada lubang, yang dapat untuk masuk seekor ular, kecuali lubang ramping panjang untuk memasukkan uang—tak mungkin ular seukuran jempol masuk lewat lubang itu.





Seumpama ada orang yang iseng, itu jelas tak mungkin. Kunci kotak infak ada digenggaman Pak RT. Pak RT sendiri juga tak berbuat iseng. Lalu lewat mana seekor ular dapat masuk ke dalam kotak infak?





Saddil keluar dari masjid, menuju parkiran mendekat pada sepeda motornya. Sementara langit tampak hitam, kemungkinan besar sebentar lagi turun hujan.





“Buang, Dil!”





“Bunuh!”





“Iya, bunuh!”





“Memang seharusnya tidak hanya dibuang, tapi dibunuh juga!”





Orang-orang bersahut-sahutan. Saddil meninggalkan masjid, melaju dengan sepeda motornya, dengan seekor ular di tangan kirinya. Ia tidak membunuh ular itu, seperti apa yang diserukan orang-orang. Ular itu ia lepaskan di pinggirsungai di dekat kampungnya, dan anehnya ular itu tak langsung pergi. Ia diam sesaat. Melihat keanehan itu, hati Saddi terusik. Ular itu baru pergi ketika Saddil membalikkan badan.










Karena kejadian itu terjadi lagidanberulang diminggu-minggukemudian, maka salah seorang warga datang kepada Pak RT, mengusulkan agar digelar rapat untuk menyelesaikan masalah itu. Pak RT setuju. Rapat segera digelar, melibatkan Pak RT tentu saja. Gedung pertemuan bergetar dengan pernyataan Pak Subandi. Ia menuduh Pak Kromo akar dari permasalahan ini.





“Sekarang coba bapak-bapak sekalian renungkan. Selama ini kita tahu bagaimana kehidupan Pak Kromo. Di sini saya tidak bermaksud merendahkan. Kehidupan Pak Kromo sekitartiga bulan terakhirberubah seratus delapan puluh derajat. Ia bisa beli dua sepeda motor, membangun teras, mengecat rumah, mengubah lantai rumahnya yang bersemen menjadi keramik, dan lainnya yang membutuhkan biaya tidak murah.





Semua itu didapat dari mana? Apakah nalar semua itu dicapai dari hasil ia bekerja sebagai buruh pembuat batu-bata? Berapa sih penghasilan buruh pembuat batu-bata?” kata Pak Subandi menggebu-gebu. “Apalagi kalau bukan pesugihan, bapak-bapak sekalian?”
“Pak Subandi jangan seperti itu, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,” ucap Pak Subairi.





“Iya, Pak Subandi jangan menuduh jika tak ada bukti!” kata Pak Husen.
“Iya, benar, jangan menuduh.” Yang lain menimpal.





“Mungkin semua itu bisa diraih karena Pak Kromo punya tabungan.”





“Mungkin Pak Kromo mempunyai pekerjaan lain, selain buruh pembuat batu-bata.”





“Tidak bapak-bapak sekalian. Saya pernah berbincang dengan Pak Kromo, membahas tentang hal yang disampaikan bapak-bapak sekalian. Pak Kromo mengaku tidak punya tabungan. Ia juga tidak punya pekerjaan lain. Waktu itu Pak Kromo mengeluhkan biaya sekolah yang mahal. Semua itu dikatakannya beberapa hari sebelum kehidupannya berubah. Saya yakin semua itu pesugihan, yang melibatkan seekor ular.”





“Cukup, Pak Subandi. Tidak perlu diteruskan. Tak baik kita menuduh orang tanpa bukti,” ujar Pak RT.





“Saya rasa jika itu pesugihan tak mungkin. Setan tak mungkin bisa masuk masjid,” ucap Heru, orang termuda di forum itu.





“Apakah tidak mungkin di masjid ada setan? Justru itu sangat mungkin. Perlu bukti?”
Hening. Semua mata tertuju pada Pak Subandi, yang seperti semakin menggebu.





“Saya berkata seperti ini bukan tanpa alasan, bapak-bapak sekalian. Saya sudah menganalisa, sejak tiga minggu yang lalu, meski sebenarnya keinginan untuk meneliti itu sudah ada sejak sebelumtigaminggulalu. Saya bisa buktikan kepada bapak-bapak sekalian, jika ujaran saya ini benar.”
Diam. Semua diam. Tidak ada yang berani berbicara. Kepala Pak Subandi dengan perlahan bergerak, menatap sekeliling. Sesaat kemudian, lelaki empat puluh tahun itu menghirup udara dalam-dalam.





“Begini bapak-bapak sekalian. Sekitaran dua minggu yang laluketika mendengarkan khotbah jumat, saya duduk di depan, di pojok, di mana di situ ada kotak infak. Saya memastikan sebelum kotak infak itu berjalan dari tangan ke tangan, kotak infak itu kosong. Dan memang kosong. Kosong bapak-bapak sekalian. Kotak infak terkunci hingga berhenti di barisan belakang jamaah.”





“Apakah Pak Subandi sudah benar-benar memastikan jika kotak infak itu kosong?” tanya Pak RT.





“Iya, Pak. Bahkan sudah saya cek dua kali. Tiga minggu belakangan, saya selalu berangkat ke masjid untuk ibadah jumat lebih awal.”





Sementara yang lain diam, menyimak, menunggu mulut Pak Subandi bergerak.





“Nah, bapak-bapak sekalian. Waktu itu saya duduk di dekat Pak Kromo.”





“Tapi bisa saja bukan Pak Kromo pelakunya.” Tiba-tiba saja Saddil angkat bicara.





Pak Subandi pun melanjutkan pembicaraannya.





“Nak, Saddil, saya belum selesai bicara. Nah bapak-bapak sekalian, sebelah kiri Pak Kromo duduk adalah Pak Yanto. Selesai salat jumat, saya pulang bersama Pak Yanto. Ia menyampaikan sesuatu hal kepada saya. Tentang keanehansetelah ia memasukkan uang ke dalam kotak infak. Ia mendengar desis ular. Kala itu saya semakin yakin jika sumber masalah ini ialah Pak Kromo, sebab jumat sebelumnya, saya juga mendengar desis ular saat saya memasukkan uang ke dalam kotak infak yang sebelum saya sentuh, telah disentuh oleh Pak Kromo. Kemudian saya mendengar lagi, setelah samping saya memasukkan uang. Sebelum itu pun saya pernah mendengar.” Pak Subandi menghela napas.





“Jika bapak-bapak sekalian kurang percaya, bisa cek kebenaran apa yang saya katakan ini kepada Pak Yanto.”





“Coba tanyakan kepada yang menghitung uang infak. Saya yakin pasti jumlahnya tidak wajar,” ucap Pak Subandi dengan mantap.





Kemudian suasana gedung pertemuan meriuh. Ada yang percaya dengan Pak Subandi, juga ada yang kontra. Pak Dulbahri, salah satu orang yang kontra dengan pernyataan Pak Subandi angkat bicara. Sebelum itu, Pak RT telah menenangkan seisi gedung.





“Maaf bapak-bapak sekalian. Menurut saya apa yang dikatakan Pak Subandi belum bisa dijadikan bukti kuat. Kalau memang benar seperti itu, Pak Subandi harus melakukan pengamatan itu berulang-ulang.”
Isi gedung kembali tidak karuan.





Malam kian larut. Jarum pendek menunjuk angka sepuluh. Jarum panjang telah melewati angka dua belas. Sudah seharusnya rapat selesai, namun karena forum yang begitu antusias dan tidak ingin rapat diakhiri, Pak RT belum membubarkan.










Rapat malam itu menghasilkan keputusan, akan diadakan penyelidikan lebih lanjut mengenai masalah tersebut—mereka diwanti-wanti untuk tidak bercerita kepada siapa pun jika mereka akan mengadakan penyelidikan. Semua orang yang ikut rapat pada malam itu terlibat, tanpa menunjukkan kelebat jika mereka sesungguhnya melakukan pengamatan. Berminggu-minggu lamanya, pernyataan Pak Subandi kian menguat dengan adanya bukti-bukti yang mengarah kepada Pak Kromo. Kini tidak ada satu pun orang yang berada di pihak Pak Kromo atau pihak yang kontra dengan pernyataan Pak Subandi.





Pada suatu hari beberapa orang bertandang ke rumah Pak Kromo dengan maksud menegur Pak Kromo sebab masalah ular itu menganggu ketenteraman warga di kampung Pranjen. Pak RT ikut serta dalam kunjungan itu.





“Sebaiknya Pak Kromo segera menghentikan pesugihan yang sedang dijalani! Atau kalau tidak, kami para warga akan mengusir Pak Kromo dari kampung ini!” kata Pak Subandi dengan wajah merah, semerah darah ayam.





“Betul!”





“Ya!”





“Pak Kromo harus segera menghentikan, atau kalau tidak kami akan mengusir Pak Kromo dari kampung ini!”





“Kalau Pak Kromo masih bertahan dengan pesugihan itu dan tidak mau pergi, kami akan membakar rumah Pak Kromo.”





“Maaf bapak-bapak sekalian, saya tak mengerti dengan maksud kehadiran bapak-bapak sekalian di rumah saya. Ada apa ini?” ucap Pak Kromo.
Riuh. Sahut-sahutan. Teriak-teriakan. Pak Kromo yang tidak tahu apa-apa terlihat bingung. Pak RT segera menenangkan. Suasana kembali mereda.





“Semuanya harap tenang dulu. Jangan langsung memojokkan Pak Kromo, apa salahnya kita pastikan kembali,” kata Pak RT dengan tenang. Meski ia berada di pihak warga, ia tak mau gegabah dalam menangani masalah ini.










Dugaan orang-orang ternyata salah. Materi yang didapat Pak Kromo bukan dari pesugihan. Kemarin ditengah orang-orang menuduh Pak Kromo, saudaranya keluar rumah karena suasana yang begitu ramainya. Pak RT menjelaskan dengan penuh kehati-hatian. Saudaranya tersenyum usai Pak RT berujar, ia kemudian menjelaskan kepada Pak RT dan orang-orang, yang berinti pada, materi yang diperoleh Pak Kromo tidak lain pemberiannya--saudara Pak Kromo sangat kaya sekali, ia merasa berutang budi pada Pak Krom karena kebaikan-kebaikan orang tuanya kepadanya di masa lalu. Bukan pesugihan, atau sesuatu yang lain yang berujung pada keburukan. Orang-orang tercengang.





“Kalau bapak-bapak sekalian tetap masih menuduh Pak Kromo dan tidak percaya dengan ucapan saya, saya berani bertaruh apa saja, Pak! Nyawa sekalipun!”










“Beri saya waktu tiga hari lagi, Nyi.” Seorang lelaki merunduk di depan sebuah keris yang berdiri di dalam almari. Keris itu berkilat-kilat.





“Tidak bisa! Kau sudah terlalu banyak ingkar janji! Tumbalmu menunggak sampai tujuh orang! Itu sangat tidak bisa dimaafkan! Subandi, istri dan anak-anakmu akan mati! Mulutmu akan mengaku di depan orang-orang bahwa kaulah yang sebenarnya mencari pesugihan! Hahahahaha….” Suara itu menggema.





“Nyi! Jangan pergi! Saya mohon sekali lagi. Saya tidak akan ingkar janji lagi.” Bersamaan dengan itu keris yang berada di dalam almari itu tidak lagi berkilat-kilat, seperti tidak bertaji.





“Nyi Randusari!” Teriak Subandi. Lalu terdengar suara tawa yang menggetarkan ruangan di mana Subandi berada.





Bantul, 2018-2020










*Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.




Sumber dari Website LP Maarif PWNU Jawa Tengah

List Komentar

Tulis Komentar

Email Anda tidak ditampilkan dipublik. Semua wajib diisi.